Senin, 20 Februari 2012

Kedudukan Sunnah Didalam Islam 2

| Senin, 20 Februari 2012 | 0 komentar

Pentingnya As-Sunnah untuk Memahami Al-Qur’an dan Contoh-Contohnya


Firman Allah Ta'ala :

”Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya...” (QS. Al-Maidah [5] : 38).

Ayat ini merupakan contoh yang baik dalam masalah ini, karena kata pencuri dalam ayat ini bersifat muthlaq. Demikian pula dengan tangan. Jadi, sunnah qauliyah menerangkan yang pertama (yaitu pencuri) dengan membatasi pencuri yang mencuri ¼ dinar dengan sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam :



”Tidak dipotong tangan kecuali mencapai ¼ dinar atau lebih” [Diriwayatkan oleh Al- Bukhari dan Muslim].

Sebagaimana sunnah menerangkan maksud “tangan” dengan perbuatan beliau , perbuatan shahabatnya, dan ijma’ bahwa mereka dahulu memotong tangan pencuri pada batas pergelangan, sebagaimana telah dikenal dalam kitab-kitab hadits.

Demikian pula ketika sunnah qauliyyah menerangkan ayat tentang tayamum :


”Sapulah mukamu dan tanganmu ...” (QS. Al-Maidah [5] : 6).

Maksud tangan di sini adalah telapak tangan. Hal itu berdasarkan pada sabda beliau ”Tayamum itu dengan mengusap wajah dan kedua telapak tangan” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim, dan selain keduanya dari hadits ‘Ammar bin Yaasir ].

Demikian pula sebagian ayat-ayat yang lain tidak mungkin dipahami dengan pemahaman yang benar sesuai dengan keinginan Allah ta’ala kecuali dari jalan Sunnah seperti :

1.Firman Allah ta’ala :

"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kedhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk” (QS. Al-An’am [6] : 82).

Para shahabat Nabi telah memahami perkataan beliau, yaitu adz-dzulm ( ) secara umum yang mencakup segala macam bentuk kedhaliman walaupun kecil. Oleh karena itu ayat ini menjadi berat bagi mereka, sehingga mereka berkata :
“Ya Rasulullah, siapa di antara kami yang tidak mencampur keimanannya dengan kedhaliman ?”. Maka Rasulullah menjawab : ”Tidak demikian yang dimaksud ! Tetapi yang dimaksud dengan adz-dzulm (kedhaliman) di sini adalah syirik. Tidakkah kalian menyimak perkataan Luqman : “Sesungguhnya syirik itu adalah kedhaliman yang besar” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim, dan lainnya].

2. Firman Allah ta’ala :

”Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqashar shalat(mu), jika kamu takut diserang oleh orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu” (QS. An-Nisaa’ [4] : 101).

Dhahir ayat ini menghendaki dikerjakannya shalat qashar dalam safar itu dengan syarat adanya perasaan takut. Oleh karena itu shahabat Rasulullah bertanya kepadanya: “Apakah kita mengqashar padahal telah aman?” Rasulullah : “Ini adalah shadaqah, Allah bershadaqah dengannya kepada kalian, maka terimalah shadaqah-Nya”.

3. Firman Allah ta’ala :

”Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah …” [QS. Al-Maidah : 3].

As-Sunnah menerangkan bahwa bangkai yang halal adalah bangkai belalang dan ikan. Sedangkan hati dan limpa termasuk darahyang halal. Rasulullah bersabda: ”Dihalalkan bagi kita dua bangkai dan dua darah, yaitu:
bangkai belalang dan ikan (semua jenis ikan) serta hati dan limpa” [Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi secara marfu’ dan mauquf. Adapun hadits yang bersanad mauquf adalah shahih yang dihukumi dengan marfu’. Hal tersebut dikarenakan bahwa perkataan tersebut tidak mungkin diucapkan hanya berdasarkan ra’yu semata].

4. Firman Allah ta’ala :

”Katakanlah : “Tiada aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir, atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu kotor. Atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah.

Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al-An’am [6] : 145).

Kemudian datanglah Sunnah yang mengharamkan sesuatu yang tidak disebut dalam ayat ini seperti sabda beliau : ”Setiap binatang buas yang bertaring dan setiap burung yang berkuku pencakar tajam adalah haram”.


Dalam bab ini ada hadits-hadits lain yang melarang dari hal selain itu seperti sabda Rasulullah pada waktu perang Khaibar : ”Allah dan Rasul-Nya melarang kalian dari (memakan) himar yang jinak karena rijs (kotor)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim].

5. Firman Allah ta’ala :

”Katakanlah : Siapa yang telah mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rizki yng baik?” (QS. Al-A’raf [7]: 32).

As-Sunnah menerangkan pula bahwa ada zinah (perhiasan) yang haram. Telah shahih dari Nabi  bahwa beliau pada suatu hari keluar menuju salah seorang shahabat yang pada salah satu tangannya ada sutera dan di tangan lainnya ada emas. Kemudian beliau bersabda :

”Kedua hal ini (sutera dan emas) haram bagi laki-laki umatku dan halal bagi para wanitanya” [Diriwayatkan oleh Al-Hakim dan beliau menshahihkannya].

Hadits-hadits yang semakna dengan ini banyak dan ma’ruf, baik dalam Shahihain ataupun selainnya. Dan banyak lagi contoh-contoh lain yang dikenal di kalangan ahlul-‘ilmi tentang hadits dan fiqh.

Dari uraian di atas menjadi jelaslah bagi kita tentang pentingnya Sunnah dalam syari’at Islam. Karena jika kembali melihat contoh-contoh di atas, terlebih lagi dari contoh lain yang tidak disebutkan, kita akan yakin bahwasannya tidak ada jalan untuk memahami Al- Qur’an dengan pemahaman benar kecuali dengan diiringi As-Sunnah. Contoh yang pertama, pemahaman para shahabat dari kata dhulm ( ) yang tersebut dalam ayat, menurut dzahirnya saja. Padahal mereka (para shahabat) adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Mas’ud : “Yang paling utama dari umat ini yang paling baik hatinya dan paling tidak berbuat takalluf
(memberatkan diri secara berlebihan).

Namun demikian, mereka salah dalam memahaminya. Kalaulah Nabi tidak meluruskan kesalahan mereka dan membimbing mereka kepada pengertian yang benar; bahwasannya dzulm ( ) dalam ayat tersebut maknanya  adalah syirik. Niscaya kita tidak akan mengikuti kesalahan tersebut.


Akan tetapi Allah Ta’ala melindungi kita dari yang demikian dengan keutamaan bimbingan dan Sunnah Nabi .

Contoh yang kedua, kalaulah tidak ada hadits tersebut, minimal kita akan ragu dalam meng-qashar dalam safar dan waktu aman --- jika kita berpendapat kepada pensyaratan “takut” sebagaimana dzahir ayat --- sebagaimana timbul yang demikian pada sebagian shahabat. Jika mereka tidak melihat Rasulullah mengqashar, dan mereka pun meng-qashar bersamanya dalam keadaan aman.

Dalam contoh yang ketiga, kalaulah tidak ada hadits tentu kita akan mengharamkan makanan-makanan yang baik yang dihalalkan bagi kita, yaitu belalang, ikan, hati, dan limpa.

Dalam contoh keempat, kalaulah tidak ada hadits yang sebagianya telah disebutkan niscaya kita akan menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah bagi kita melalui lisan Nabi-Nya seperti binatang buas, atau burung yang mempunyai kuku pencakar.

Demikian pula contoh yang kelima. Kalaulah tidak ada hadits, maka kita akan menghalalkan apa yang diharamkan Allah melalui lisan Nabi-Nya yaitu emas dan sutera bagi laki-laki. Oleh karena itu dari sinilah berkata sebagian salaf : As-Sunnah itu menjelaskan Al-Kitab (menyampaikan pemahaman kepada Kitab)

Insya Allah bersambung...


(منزلة السنة في الإسلام)


ضرورة السنة لفهم القرآن وأمثلة على ذلك
     وقوله تعالى: {والسارق والسارقة فاقطعوا أيديهما} [المائدة: 38] مثال صالح لذلك، فإن السارق فيه مطلق كاليد فبينت السنة القولية الأول منهما وقيدته بالسارق الذي يسرق ربع دينار بقوله صلى الله عليه وسلم: "لا قطع إلا في ربع دينار فصاعدا" [أخرجه الشيخان].
     كما بينت الآخر بفعله صلى الله عليه وسلم أو فعل أصحابه وإقراره فإنهم كانوا يقطعون يد السارق من عند المفصل كما هو معروف في كتب الحديث، وبينت السنة القولية اليد المذكورة في آية التيمم: {فامسحوا بوجوهكم وأيديكم} [النساء: 43 المائدة: 6] بأنها الكف أيضا بقوله صلى الله عليه وسلم: "التيمم ضربة للوجه والكفين" [أخرجه أحمد والشيخان وغيرهم من حديث عمار بن ياسر رضي الله عنهما].
     وإليكم بعض الآيات الأخرى التي لم يمكن فهمها فهما صحيحا على مراد الله تعالى إلا من طريق السنة:
     1) قوله تعالى: {الذين آمنوا ولم يلبسوا إيمانهم بظلم أولئك لهم الأمن وهم مهتدون} [الأنعام: 82] فقد فهم أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم قوله: {بظلم} على عمومه الذي يشمل كل ظلم ولو كان صغيرا؛ ولذلك استشكلوا الآية فقالوا: يا رسول الله أينا لم يلبس إيمانه بظلم؟ فقال صلى الله عليه وسلم: "ليس بذلك إنما هو الشرك ألا تسمعوا إلى قول لقمان: {إن الشرك لظلم عظيم} [لقمان: 13]؟" [أخرجه الشيخان وغيرهما].
     2) قوله تعالى: {وإذا ضربتم في الأرض فليس عليكم جناح أن تقصروا من الصلاة إن خفتم أن يفتنكم الذين} [النساء: 101] فظاهر هذه الآية يقتضي أن قصر الصلاة في السفر مشروط له الخوف ولذلك سأل بعض الصحابة رسول الله صلى الله عليه وسلم فقالوا: ما بالنا نقصر وقد أمنا؟ قال: "صدقة تصدق الله بها عليكم فاقبلوا صدقته" [رواه مسلم].
     3) قوله تعالى: {حرمت عليكم الميتة والدم...} [المائدة: 3] فبينت السنة القولية أن ميتة الجراد والسمك والكبد والطحال من الدم حلال فقال صلى الله عليه وسلم: "أحلت لنا ميتتان ودمان: الجراد والحوت (أي السمك بجميع أنواعه) والكبد والطحال" [أخرجه البيهقي وغيره مرفوعا وموقوفا وإسناد الموقوف صحيح وهو في حكم المرفوع لأنه لا يقال من قبل الرأي].
     4) قوله تعالى: {قل لا أجد في ما أوحي إلي محرما على طاعم يطعمه إلا أن يكون ميتة أو دما مسفوحا أو لحم خنزير فإنه رجس أو فسقا أهل لغير الله به} [الأنعام: 145].
     ثم جاءت السنة فحرمت أشياء لم تذكر في هذه الآية كقوله صلى الله عليه وسلم: "كل ذي ناب من السباع وكل ذي مخلب من الطير حرام".
     وفي الباب أحاديث أخرى في النهي عن ذلك، كقوله صلى الله عليه وسلم يوم خيبر: "إن الله ورسوله ينهيانكم عن الحمر الإنسية فإنها رجس" [أخرجه الشيخان].
     5) قوله تعالى: {قل من حرم زينة الله التي أخرج لعباده والطيبات من الرزق} [الأعراف: 32] فبينت السنة أيضا أن من الزينة ما هو محرم، فقد ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه خرج يوما على أصحابه وفي إحدى يديه حرير وفي الأخرى ذهب فقال: "هذان حرام على ذكور أمتي حل لإناثهم" [أخرجه الحاكم وصححه].
     والأحاديث في معناه كثيرة معروفة في "الصحيحين"  وغيرهما. إلى غير ذلك من الأمثلة الكثيرة المعروفة لدى أهل العلم بالحديث والفقه.
     ومما تقدم يتبين لنا أيها الإخوة أهمية السنة في التشريع الإسلامي، فإننا إذا أعدنا النظر في الأمثلة المذكورة فضلا عن غيرها مما لم نذكر نتيقن أنه لا سبيل إلى فهم القرآن الكريم فهما إلا مقرونا بالسنة.
     ففي المثال الأول فهم الصحابة (الظلم) المذكور في الآية على ظاهره ومع أنهم كانوا رضي الله عنهم كما قال ابن مسعود: "أفضل هذه الأمة، أبرها قلوبا، وأعمقها علما، وأقلها تكلفا" فإنهم مع ذلك قد أخطئوا في ذلك الفهم، فلولا أن النبي صلى الله عليه وسلم ردهم عن خطئهم وأرشدهم إلى أن الصواب في (الظلم) المذكور إنما هو الشرك لاتبعناهم على خطئهم ولكن الله تبارك وتعالى صاننا عن ذلك بفضل إرشاده صلى الله عليه وسلم وسنته.
     وفي المثال الثاني: لولا الحديث المذكور لبقينا شاكين على الأقل في قصر الصلاة في السفر في حالة الأمن إن لم نذهب إلى اشتراط الخوف فيه كما هو ظاهر الآية وكما تبادر ذلك لبعض الصحابة لولا أنهم رأوا رسول الله صلى الله عليه وسلم يقصر ويقصرون معه وقد أمنوا.
     وفي المثال الثالث: لولا الحديث أيضا لحرمنا طيبات أحلت لنا: الجراد والسمك والكبد والطحال.
     وفي المثال الرابع: لولا الأحاديث التي ذكرنا فيه بعضها لاستحللنا ما حرم الله علينا على لسان نبيه صلى الله عليه وسلم من السباع وذوي المخلب من الطير.
     وكذلك المثال الخامس: لولا الأحاديث التي فيه لاستحللنا ما حرم الله على لسان نبيه من الذهب والحرير ومن هنا قال بعض السلف: السنة تقضي على الكتاب.


Ditulis Oleh : muhammad yusuf ~ Blog Pribadi Abu Iram Al-Atsary

Selamat, Anda sedang membaca artikel saya yang berjudul Kedudukan Sunnah Didalam Islam 2 - Artikel ini diposting oleh muhammad yusuf pada hari Senin, 20 Februari 2012. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca artikel ini. Jangan lupa like ke akun facebook anda untuk berbagi - Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui Buku Tamu Kami. By. Abu Iram Al-Atsary.

0 komentar:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Posting Komentar

Tulis Komentar Anda Disini:

 
© Copyright 2010. yourblogname.com . All rights reserved | yourblogname.com is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com - zoomtemplate.com